Unik! Jas Hujan Ini Dapat Menyuling Air Hujan Menjadi Air Minum -
Hyeona Yang dan Joshua Nobel dari Institut Kopenhagen telah mendesain sebuah jas hujan yang dapat menangkap serta memurnikan air hujan menjadi air layak minum.
Cara kerja Jas hujan yang mereka namakan Raincatch ini adalah, menampung air hujan dalam tudung jas dan air ini kemudian melewati filter arang dan sistem pemurnian kimia yang terintegrasi.
Tampak belakang
Setelah dimurnikan, air minum tersebut kemudian disimpan di sekitar bahu dan saku-saku mantel tersebut. Kemudian, anda tinggal meminum air yang telah dimurnikan tersebut lewat sedotan yang ada pada jas hujan.
Hyeona Yang dan Joshua Nobel dari Institut Kopenhagen telah mendesain sebuah jas hujan yang dapat menangkap serta memurnikan air hujan menjadi air layak minum.
Cara kerja Jas hujan yang mereka namakan Raincatch ini adalah, menampung air hujan dalam tudung jas dan air ini kemudian melewati filter arang dan sistem pemurnian kimia yang terintegrasi.
Tampak belakang
Setelah dimurnikan, air minum tersebut kemudian disimpan di sekitar bahu dan saku-saku mantel tersebut. Kemudian, anda tinggal meminum air yang telah dimurnikan tersebut lewat sedotan yang ada pada jas hujan.







Dengan membagi satu hari dan satu malam menjadi masing-masing 12 jam, maka dengan tidak langsung konsep 24 jam diperkenalkan. Namun demikian panjang hari dan panjang malam tidaklah sama, tergantung musimnya (contoh: saat musim panas hari lebih panjang dibandingkan malam). Oleh karena itu pembagian jam dalam satu hari pun berubah-ubah sesuai dengan musimnya. Sistem waktu ini disebut dengan sistem waktu musiman. Pada sekitar tahun 147-127 SM, seorang ahli astronomi Yunani bernama Hipparchus menyarankan agar banyaknya jam dalam satu hari dibuat tetap saja yaitu sebanyak 24 jam, disebut dengan sistem waktu equinoctial. Namun sistem ini baru diterima secara luas oleh saat ditemukannya jam mekanik di Eropa pada abad ke-14.

